NU Kedawung Kajian Islam Hasil Keputusan Bahtsul Masail Diniyah MWC NU Kedawung dalam Rangka HSN 2022

Hasil Keputusan Bahtsul Masail Diniyah MWC NU Kedawung dalam Rangka HSN 2022

20230608-091118

Hasil Keputusan Bahtsul Masail Diniyah MWC NU Kedawung dalam Rangka HSN th.2022

Kegitan bahtsul masail tersebut dilaksanakan pada hari Ahad, 6 November 2022, bertempat di TPQ Al-Hadi, Genggong, Wonokerso, Kedawung, Sragen.

314681730 5492384827535793 6275925501808382961 n

DISKRIPSI MASALAH

Masih berlaku disekitar kita kebiasaan sebagian kaum muslimin yang membuang kembang di perempatan jalan pada siang atau malam Jum’at dengan keyakinan-keyakinan tertentu. Juga berlaku tradisi ketika memperingati 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari kematian, mereka membuat beraneka ragam makan yang disebut dengan “pancen” dan juga melepaskan burung merpati yang kakinya diikat dengan karet dan diselipkan uang kertas.

PERTANYAAN

1. Bolehkah tradisi diatas dilakukan oleh kaum muslimin? Dan apa alasannya?

Jawaban diperinci sebagai berikut:

1. Masalah Membuang Kembang di Perampatan Jalan:

Hukumnya haram sebab termasuk meyia-nyiakan harta (idha’atul mal) dengan tanpa ada tujuan yang benar (shahih).

2. Masalah Membuat Pancen:

Hukumnya haram, sebab termasuk (1) menyia-nyiakan harta (2) tasyabbuh atau menyerupai adat atau kebiasaan jahiliyah atau ahli syirik.

3. Masalah Melepaskan Burung Dengan Kaki di Ikatkan Uang:

Hukumnya diperinci dari sisi melepaskan burung. Yaitu, jika niatnya hanya sekedar melepaskan burung biar bebas saja, maka hukumnya haram. Dan jika ada niatan supaya burung nantinya ditemu orang, maka hukumnya boleh.

Kemudian dari sisi disana terdapat keyakinan makanan tersebut disediakan untuk ruh mayit yang kembali ke rumah, maka keyakinan ini adalah khurafat yang diharamkan agama.

REFERENSI:

Dalam kitab Sirojul Arifin (hal. 57) disebutkan:

اما وضع الطعام والأزهار فى الطرق اوالمزارع اوالبيوت لروح الميت وغيره فى الأيام المعتادة كيوم العيد ويوم الجمعة وغيرهما كل ذلك من الأمور المحرمة ومن عادة الجاهلية ومن عمل أهل الشرك .

“Adapun meletakkan makanan dan aneka ragam kembang di jalanan, sawah, atau rumah untuk roh mayit atau yang lain pada hari-hari yang sudah menjadi kebiasaan, seperti hari raya, hari Jum’at dan selainnya, maka semua itu adalah diharamkan dan termasuk tradisi jahiliyah dan perbuatan ahli syirik”.

Dalam kitab Tsamar ar-Raudhah asy-Syahiyah (kitab kumpulan hasil keputusan musyawarah para masyayikh Indonesia di Mekkah) disebutkan:

إن قصد بتصدق ذلك الطعام التقرب إلى الله ليكفي الله شر ذلك من الجن لم يحرم لأنه لم يتقرب لغير الله كما لا يخفى للمنصف وأما إذا قصد الجن فحرام بل إن قصد التعظيم والعبادة لمن ذكر كان ذلك كفرا قياسا على نصهم في الذبح كما في فتح المعين ج ۲ ص ٣٤٩، والجمل على المنهج في كتاب الصيد والذبائح وغيرها اه ، هذا إذا لم يكن فيه إضاعة مال كأن لم يكن فيه إلا مأكول ويؤكل، وأ.ما ماعهد الآن في بلدنا جاوة من أن فيه لبان جاؤه «منيان » والأزهار «كمباغ » وغيرهما مما لا يؤكل فحرام لأنه تصرف المال فيما لا يقصد شرعا

“Jika tujuan sedekah makanannya tersebut adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah agar Allah menghindarkan dari keburukan jin, maka hukumnya tidak haram, karena tidak adanya unsur taqarrub kepada selain Allah sebagaimana yang tidak samar lagi bagi orang yang inshof. Tetapi jika tujuannya adalah jin, maka hukumnya haram. Bahkan jika niatnya adalah ta’zhim dan ibadah kepada jin, maka hal itu adalah kekufuran diqiyaskan dengan penjelasan ulama’ dalam bab menyembelih seperti dalam kitab Fathul Mu’in dan Hasyiyah al-Jamal. Semua itu jika tidak ada unsur idho’atul mal (menyia-nyiakan harta), seperti sesajiannya adalah makanan dan kemudian dimakan. Adapun yang berlaku di tanah Jawa sekarang ini, dimana sesajiannya berupa menyan, kembang dan yang lain, makan hukumnya adalah haram karena yang tersebut menggunakan harta yang tidak sesuai dengan tujuan syari’at”

Dalam kitab al-Ibda’ karangan Syaikh Ali Mahfuz (hal. 395) disebutkan tentang Khurafat:

الخرافات كل ما لا صحة له

“Khurafat adalah setiap sesuatu yang tidak benar”.

Khurafat ini bermula dari seorang laki-laki yang hilang yang bernama Khurafat dan kemudian setelah pulang dari dunia jin, dia bercerita yang aneh-aneh dan kebenarannya meragukan.

Dalam kitab al-Bajuri (II/360) disebutkan:

وقوله والبهيمة أي كالأبل والبقر والغنم وقوله فلا يصح عتقهما أي لأنه كتسييب السوائب وهو حرام نعم لو أرسل مأكولا بقصد اباحته لمن يأخذه لم يحرم

“Memerdekakan hewan seperti onta, sapi dan kambing adalah tidak sah, sebab itu seperti tasyib hewan saibah yang haram. Namun jika melepaskan hewan yang halal dagingnya dengan tujuan dihalalkan (diibahahkan) bagi yang menemukan, maka melepaskan hewan tersebut tidak haram”.

14 Likes

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *