NU Kedawung Kajian Islam Syarat Diperbolehkannya Menafsirkan Al-Qur’an

Syarat Diperbolehkannya Menafsirkan Al-Qur’an

20230608-091118

Syarat Diperbolehkannya Menafsirkan Al-Qur’an – Al-Qur’an adalah bahasa Arab, maka sudah semestinya cara memahaminya adalah harus dengan methodologi orang Arab. Oleh sebab itu, ulama Islam sepakat bahwa sebelum menafsiri al-Qur’an atau menggali hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah, seseorang harus pintar didalam ilmu bahasa Arab dan lain-lain. Jika tidak demikian, maka orang tersebut akan masuk dalam sabda Rasulullah berikut:
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barang siapa yang berbicara tentang (kandungan) Al-Qur’an dengan tanpa ilmu, maka selayaknya ia mengambil tempatnya dari neraka”.

Syarat Diperbolehkannya Menafsirkan Al-Qur’an

Berikut ini syarat-syarat diperbolehkan menafsirkan Al-Qur’an.

  1. Mengetahui lughat (bahasa) Arabiyyah dan kaidah-kaidahnya, seperti ilmu nahwu, ilmu sharaf, dan lain-lain).
  2. Mengetahui disiplin sastra Arab (Ilmu balaghah), seperti ma’ani, bayan dan badi’.
  3. Memahami betul ilmu ushul fiqih, seperti am, khash, mujmal, mubayyan, muthlaq, muqayyad dan lain-lain.
  4. Mengetahui sebab-sebab diturukannya ayat (asbab an-nuzul).
  5. Mengetahui nasikh dan mansukh.
  6. Mengetahui ilmu qira’at (sab’ah atau asyarah).
  7. Ilmu mauhibah yakni ilmu yang hanya diperoleh oleh orang-orang yang berhati bersih, tidak pernah makan barang syubhat apalagi haram, ikhlash, tidak sombong, tidak cinta dunia atau populer dan lain-lain.

Syarat-Syarat Menjadi Mujtahid

Seseorang untuk boleh dan bisa menggali langsung hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah tidak semudah yang banyak difahami dan dibayangkan oleh orang-orang yang minim ilmu. Ada syarat-syarat berat dan ketat yang tidak setiap orang dapat memenuhinya. Bahkan dikatakan ulama, setelah Imam as-Syafi’i, tidak ada yang orang yang dapat memenuhi syarat-syarat tersebut.

Berikut ini adalah syarat-syarat menjadi mujtahid, yakni derajat ulama yang boleh menggali hukum langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah:

  1. Memahami dan luas wawasan ilmu Arabiyyahnya.
  2. Memahami ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
  3. Mempunyai pengetahuan yang berkaitan dengan as-Sunnah.
  4. Memahami tentang ijma’ dan ikhtilaf ulama.
  5. Mampu melakukan qiyas.
  6. Memahami maqashidul ahkam (tujuan-tujuan disyariatkannya hukum)
  7. Sehat pemahamannya.
  8. Baik niat dan akidahnya bukan sesat.

Jika ulama-ulama hadits, fiqih, tafsir dan sejarah seperti Imam al-Bukhari, an-Nasai, Imam ad-Dzahabi, Imam Ibnu Katsir dan lain-lain saja bermadzhab as-Syafi’i, maka kenapa orang-orang yang menggunakan kitab-kitab mereka sangat anti madzhab?

baca juga : Dalil tentang Tawassul

24 Likes

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *