Sudah cukup banyak informasi kecurangan atau tahrif kitab yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku paling sunnah. Tapi kali ini saya informasikan tahrif dan fitnah mereka yang jarang disampaikan oleh kawan-kawan Ahlussunnah wal Jama’ah.
- Dalam kitab “Rasail fi Hukmi al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi” tulisan Syaikh Ismail al-Anshari (Wahabi), ia menukil dari Imam ash-Shalihi asy-Syami (Ahlussunnah) dalam kitabnya “Subul al-Huda wa ar-Rasyad” bahwa Imam as-Sakhawi anti maulid, Syaikh Ibn Thabbakh juga anti maulid, dan Syaikh Zhahiruddin Ja’far yang juga anti maulid. Setelah dibuka kitab “Subul al-Huda wa ar-Rasyad” ternyata kalam-kalam mereka dipotong sehingga tampak mereka anti maulid.
- Syaikh Shalih al-Fauzan (Wahabi) dalam “Syarah Rasail ad-Dalail” menyebut bahwa kaum sufi paling benci jika tauhid disebutkan dihadapan mereka. Innaa lillahi wainna ilaihi raji’un.
- Syaikh Shalih al-Fauzan dalam “Hukm al-Ihtifalbi dzikri al-Maulid an-Nabawi” menukil dari kitab “al-Bidayah wa an-Nihayah” karya Imam Ibn Katsir tentang kisah Raja Kaukabri (Malik Muzaffar) yang menghidupkan malam maulid Nabi. Dan ternyata Syaikh Shalih al-Fauzan memotong-motong nukilan sehingga tampak majlis maulid tersebut hanya dihadiri kaum sufi saja dan tampak tak ada pujian Imam Ibn Katsir terhadap Raja Kaukabri dan taqrir terhadap acara maulid tersebut.
- Syaikh Abdurrahman al-Khumayyis dalam kitabnya, “Hiwar Ma’a Asy’ari” (hlm. 40) menukil ucapan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam al-Ghunyah. Dalam al-Ghunyah, Syaikh al-Jilani menyebut bahwa ta’wil istawa dengan duduk dan menempel adalah ta’wilan Mujassimah dan Karramiyah. Tetapi dalam nukilan Syaikh al-Khumayyis, narasi tersebut dipotong dan langsung loncat kalam seterusnya. Ada apa ini? Apa karena ta’wilan Mujassimah tersebut sama dengan akidah beliau? Wallahu A’lam. Yang jelas nukilan dengan main loncat seperti ini cukup banyak dilakukan oleh mereka.
- Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh dalam “al-La’ali’ al-Bahiyah syarah al-Aqidah al-Wasithiyah” berkata bahwa hadits “Laisa Duunaka Syai'” dibuat dalil Mu’tazilah dan Asy’ariyah tentang Allah ada dimana-mana tempat.
Duch, dusta apalagi ini. Manakah kitab Asy’ariyah yang menyatakan demikian?!
- Syaikh al-Utsaimin dalam Majmu Fatawa wa Rasail, saat menjelaskan Allah beristiwa’ atas arsy, berkata bahwa Asyai’rah meyakini Allah tidak ber-istiwa atas arsy. Ini salah satu fitnah kepada Asy’ariyah. Jika ulama’-nya sudah memproduksi narasi-narasi negatif seperti ini, maka dipastikan pengikut sorak horenya pasti akan makan mentah-mentah.
- Syaikh Shalih al-Fauzan dalam “Syarah Risalah ad-Dalail” melakukan fitnah bahwa kaum sufi tidak akan mau datang ke masjid yang tidak ada kubah kuburnya. Hadeh…
- Syaikh Ibn Mani’ (tokoh besar Kerajaan Saudi Arabia) dalam kitabnya, “Hiwar Ma’a al-Maliki”, ketika mengkritik Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki melakukan talbis dengan berkata bahwa maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama’ fikih, ulama’ tafsir dan lain-lain dan hanya dilakukan oleh kaum sufi, Syi’ah Rafidhah, Qaramithah dan Fathimiyyun. Padahal Sayyid Muhammad Alawi sebelumnya telah menjelaskan bahwa maulid Nabi dihadiri oleh banyak ulama’, termasuk ulama’ sufi.
- Syaikh Abdurrahman al-Khumayyis dalam “I’tiqad Aimmah as-Salaf Ahli al-Hadits” menukil ucapan Imam al-Ismaili dalam kitab “I’tiqad Aimmah Ahli al-Hadits” tentang Yad Allah dan membuang (memotong) penjelasan beliau bahwa Yad Allah yang dimaksud bukan anggota badan, bukan organ (jarihah), tidak memiliki dimensi (panjang dan lebar), tidak tebal dan tidak tipis atau semacamnya yang menjadi ciri khas makhluk.
Kita tahu, Wahabi sangat tidak rela jika Yad Allah diyakini bukan anggota badan dan organ.
Ketika menukil ucapan Imam Ibn Baththal al-Maliki (Fath al-Bari li Ibn Hajar), Syaikh al-Khumayyis juga menghilangkan penjelasan beliau bahwa yad Allah bukan jarihah (organ).
- Fatwa Lajnah Daimah Saudi, yang dihimpun oleh Syaikh Ahmad bin Abdirrazaq ad-Duwaisy menyatakan bahwa ulama’ khalaf yang suka menta’wil sifat Allah mengatakan Allah ada dimana-mana tempat.
- Syaikh Faisal Quzar dalam “Al-Asya’irah fi Mizan Ahlissunnah” yang diberi kata pengantar 8 ulama’ Wahabi melakukan tahrif, memotong nukilan dan mengaburkan kalam ulama’ sehingga ada 4 tempat yang saya temukan.
Termasuk, kitab Manhaj al-Asya’irah fi al-Aqidah karangan Dr. Safar al-Hawali juga banyak ketidak tepatan dan nukilan yang tidak valid tentang Asy’ariyah. Sudah begitu, kedua kitab ini menjadi salah satu rujukan dan andalan pengikut Wahabi untuk menghantam Asy’ariyah.
Ini hanya sebagian dari sekian perilaku tidak amanah atau boleh disebut fitnah yang dilakukan oleh sebagian tokoh Wahabi. Sebenarnya masih banyak bukti lain kecurangan dan fitnah dari mereka dan kebetulan saya ada banyak scan kitab mereka. Saya tidak tahu, mengapa yang seperti ini banyak sekali terjadi pada ulama’ dan tokoh dari mereka? Demi apa melakukan seperti itu? Untuk mengelabuhi dan memuaskan nafsu yel-yel pengikutnya? Sayangnya, pengikut mereka juga tidak ada yang memberikan kritik atau apapun?! Justru mereka lebih banyak menghujat Ahlussunnah wal Jama’ah dan mencari berbagai cara untuk menjatuhkan reputasi pembela Ahlussunnah sebab mungkin sudah bingung tidak ada lagi hujjah ilmu yang hendak disampaikan untuk membantah.
Ulama’ atau siapapun, termasuk saya, bisa saja salah karena kesalah fahaman (wahm) atau salah menerima informasi dan lain-lain, tetapi jika seperti disengaja sebagaimana diatas, rasanya tidak berlebihan jika saya katakan “hendaklah agama tidak dibangun diatas dusta dan ketidak jujuran”.
Sekali lagi, saya tidak benci Wahabi. Tetapi yang saya lakukan diatas semata-mata untuk bernasehat kepada mereka dengan memberikan informasi bahwa semestinya kita tidak sembarangan mengambil ilmu dari tokoh-tokoh yang tidak jujur dalam beragama. Andai bukan tujuan itu, tentu fakta ini tidak akan saya bongkar atau viralkan. Semoga Allah memaafkan dosa dan kesalahan kita.
Mengapa kejujuran sangat penting dalam beragama dan menyampaikan akidah?
Kita lihat…..
- Syaikh Utsaimin, ulama’ Wahabi, dalam Syarah al-Kafiyah as-Syafiyah ketika menjelaskan syarah akidah Ibn al-Qayyim al-Jauziyah memfitnah Imam al-Haramain dengan menyatakan bahwa beliau berkata Allah ada dimana-mana.
Syaikh al-Albani juga pernah memfitnah ulama’ Azhar mengatakan demikian. Keduanya sudah pernah saya posting (plus scan kitab) beberapa tahun yang lalu.
- Syaikh Shiqqid al-Qinauji dalam Fath al-Bayan berkata bahwa dalam Shahih al-Bukhari terdapat nukilan dari Sayyiduna Ibn Abbas yang menta’wil istawa dengan istaqarra (bersemayam). Padahal dikatakan pengkaji, itu tidak ada dan tidak betul.
. - Syaikh Shalih al-Fauzan tidak jujur saat ditanya muridnya perihal issu bahwa ia pernah menyebut Imam Ibn Hajar, Imam al-Baihaqi dan Imam al-Khaththabi tidak tsiqah. Saat itu dia menjawab tidak pernah, padahal dalam kitabnya yang membatantah Syaikh Muhammad Sai’d Ramadhan al-Buthi dia mengatakan demikian. Ini juga sudah pernah saya posting (plus scan kitab) beberapa tahun lalu.
- Syaikh Utsaimin dalam Majmu’ Fatawa-nya berkata bahwa istiwa’ bermakna (dita’wil) istaqarra adalah masyhur dari salaf. Ini ucapan tidak betul, sebab ulama’ sudah menjelaskan bahwa istaqarra bukan ta’wil Ahlussunnah. Ada kesan talbis dalam ucapan Syaikh Utsaimin.
- Imam Ibn al-Qayyim dalam Ijtima’ al-Juyusy berkata bahwa Imam al-Baihaqi menukil istawa dengan makna istqqarra dalam riwayat Ibn Abbas, tanpa menjelaskan kelemahan sanad. Padahal Imam al-Baihaqi dalam kitab yang dinukil Imam Ibn Qayyim telah menjelaskan kelemahan riwayat tersebut.
- Imam Ibn Qayyim dalam kitab Ijtima’ al-Juyusy berkata, Imam al-Baghawi dalam tafsirnya menafsir istawa dengan istaqarra merupakan pendapat Muqatil dan al-Kalbi. Padahal dalam kitab tersebut, Imam al-Baghawi menjelaskan pendapat-pendapat ulama’ tentang istawa dan isyarat bahwa pendapat Muqatil dan al-Kalbi bukan pendapat Ahlussunnah. Sayang Imam Ibn al-Qayyim terkesan talbis.
- Hampir semua penganut Wahabi memproduski fitnah bahwa Imam al-Asy’ari pada akhir hayatnya mengikuti manhaj salaf ala mereka. Padahal Imam al-Alusi dan ulama’ lain menyatakan, al-Asy’ari penganut tafwidh di akhir hayatnya.
- Hampir semua Wahabi mencela habis akidah Imam Ibn Kullab (ulama’ salaf). Kata mereka, kesesatan Imam Ibn Kullab adalah karena celaan Imam Ahmad bin Hanbal kepadanya. Padahal Imam Ibn Kullab dipuji sebagai Ahlussunnah dari kalangan salaf oleh banyak sekali ulama’, seperti Qadhi Abu Syuhbah, Imam Ibn Abi Qairuwani, Imam az-Zahabi (belau menyebut ahli debat Ahlussunnah), Imam Ibn Khaldun, Imam asy-Syahrastani, Syaikh Syu’aib al-Arnauth, dan bahkan jadi rujukan ilmu kalam Imam al-Bukhari. Tetapi karena beliau ada ketidak cocokan dengan Imam Ahmad bin Hanbal (dan pengikutnya), kemudian disimpulkan Wahabi sebagai ulama’ ahli kalam yang sesat.
- Wahabi dalam masalah akidah tak jarang berhujjah dengan hadits dhaif, bahkan kadang tidak ada dalilnya sama sekali. Padahal telah menjadi kesepakatan, akidah tidak boleh didasarkan atas hadits yang lemah apalagi tanda dalil. Tetapi ketika Ahlussunnah mengamalkan hadits dhaif dalam fadhilah amal atau targhib wa tarhib atau kisah yang diperbolehkan oleh mayoritas ulama’ salaf dan khalaf mereka gempar seperti sudah mau kiyamat dengan mengkritik habis-habisan.
(Dan saya bisa berikan contoh lain sebab saya ada banyak scan kitab Wahabi yang bermasalah).
Apa begini manhaj yang dikatakan pengikut sunnah atau salaf? Bagaimana bisa beragama dibangun diatas ketidak jujuran?! Dan apakah pengikutnya yang melihat kenyataan ini mau memberikan kritik atau pelurusan? Terhadap yang begini, mereka seperti menutut mata dan pura-pura tidak tahu. Tetapi terhadap “kelemahan” kecil Ahlussunnah, mereka goreng-goreng hingga habis dan jika perlu dijatuhkan martabat-nya serendah-rendahnya.
Saya tidak benci ulama-ulama’ diatas, khususnya Imam Ibn al-Qayyim, tetapi menyampaikan yang haq adalah kewajiban dan lebih saya cintai.
By : Hidayat Nur

